Ungkapan cinta dalam bahasa sasak

Ungkapan Cinta Bahasa Sasak Asli

Setiap bahasa memiliki ungkapan tersendiri dalam mengungkapkan rasa cinta, kangen dan rindu. Berikut beberapa ungkapan cinta asli yang biasa dipakai dalam Bahasa Sasak. Bukan ungkapan bahasa Indonesia yang diterjemahkan, tetapi ungkapan murni dari budaya Sasak.

  • Cobaq dongaq adik gunung Rinjani = Coba adik lihat gunung Rinjani
  • Kembekne kak = Kenapa kak
  • Ye wah kebelek angenke = Seperti itulah besar cintaku
  • Sik melekde = Aku mau sama kamu
  • Sik kangende = Aku kangen sama kamu
  • Sik tunahde = Aku sayang sama kamu
  • Mum mele taoq angeke, coba dongaq gunung Rinjani = Kalau mau tahu besarnya cintaku, coba lihat gunung Rinjani
  • Lelahke berangen = Terus menerus memikirkan kamu
  • Sikke siimpiq impikde = Wajahmu terbawa dalam mimpi
  • Palengk berangen = Jatuh cinta berat
  • Balek tedoq = Diam-diam suka
  • Nangis adeng = Menangis pelan-pelan karena cinta
  • Nangis tedoq = Menangis diam-diam karena rindu
  • Kuning sikn gitak nasiq = Nasi terlihat kuning karena terlalu memikirkan seseorang
  • Jelo malemke angenan side = Siang malam aku rindukan kamu
  • Endeq tao tindoq tidem sik angenan side = Aku tak bisa tidur karena rindu
  • Semarang dengan liwat sik paran side = Siapapun yang lewat aku kira itu dirimu
  • Endek bau dengah ape-ape ngeresek, sik paran side doang = Setiap ada suara kecil, kukira itu langkahmu

 Lihat Juga Kamus Sasak. Mungkin anda membutuhkannya

  • Ngoang sedoqke diminke gitak side = Hampir lemah jantung saat melihatmu
  • Jak telih panas wah nani mungke wah gitakm = Aku akan demam kalau bertemu kamu
  • Naningke beridap genjah tanaq dimingke wah daitde = Baru merasa menginjak bumi setelah bertemu kamu
  • Jumatiqne wah menah mele bedait = Mengharap pagi cepat datang untuk bertemu
  • Mene kejarianjak, araanke mate kodeq = Kalau tahu begini, lebih baik mati saat bayi
  • Wahde kembeqke jaq, angkaqke mene = Kamu sudah apakan saya sampai seperti ini?
  • Timaqte kaken geres pokokte saq bareng = Tidak apa-apa hidup susah asal bersamamu
  • Merariq doang jari oatne = Menikah adalah satu-satunya obatnya
  • Side doang taoq angenku = Hanya engkau yang tahu isi hatiku
  • Lebur anyong siq kemosande = Hatiku hancur lebur karena senyummu
  • Idup mate side doang = Hidup matiku hanya untukmu

Mari kita bahas lebih mendalam 

Analisis Sosiolinguistik dan Metafora Metafora Asmara dalam Tuturan Bahasa Sasak

Oleh: Muhammad Yusuf

Kategori: Etnolinguistik / Kebudayaan Sasak

Pendahuluan

Bahasa Sasak di Lombok memiliki kekayaan idiom dan tuturan emosional yang mencerminkan pandangan dunia (worldview) masyarakatnya terhadap hubungan asmara. Dalam kajian sosiolinguistik, ungkapan romantisme tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antar-individu, tetapi juga manifestasi dari metafora konseptual dan nilai sosio-kultural lokal. Artikel ini mendokumentasikan dan menganalisis secara mendalam tuturan ekspresi romantis dalam bahasa Sasak serta implikasi budayanya.

Metode Pengumpulan Data

Data tuturan diproleh melalui metode observasi partisipatif dan studi dokumen tuturan lisan masyarakat Sasak (dialectal field observation). Data dikategorikan berdasarkan bentuk ekspresi hiperbola, metafora fisik-spasial, serta pranata sosial masyarakat tempatan.

Hasil dan Pembahasan

1. Metafora Psikosomatik dan Hiperbola Emosional

Masyarakat Sasak sering kali menggambarkan intensitas perasaan cinta melalui manifestasi respon fisik/tubuh (psikosomatik). Hal ini terlihat pada ungkapan-ungkapan berikut:

  • "Ngoang sedoqke diminke gitak side"

Glosarium: Hampir lemah jantung saat melihatmu.

Analisis: Menggunakan kiasan gangguan fungsi organ internal (jantung/dada) untuk menggambarkan keterkejutan emosional (emotional shock) akibat pesona pasangan. 

  • "Jak telih panas wah nani mungke wah gitakm"
    • Glosarium: Aku akan demam jika melihatmu/bertemu kamu.
    • Analisis: Perasaan rindu atau keterpukauan diekspresikan sebagai simtom penyakit fisik (demam/panas), yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh emosional terhadap kondisi fisiologis seseorang.
  • "Mene kejarianjak, araanke mate kodeq"
    • Glosarium: Kalau tahu begini, lebih baik mati saat bayi.
    • Analisis: Bentuk tuturan hiperbolik ekstrem yang mengekspresikan penyesalan atas kepedihan cinta (heartbreak) atau kepasrahan emosional yang mendalam.

2. Orientasi Spasial dan Keberadaan (Spatial Orientation)

Perasaan ketenangan dan kepastian psikologis setelah bertemu dengan pasangan dihubungkan dengan elemen bumi dan waktu:

  • "Naningke beridap genjah tanaq dimingke wah daitde"
    • Glosarium: Baru merasa menginjak bumi setelah bertemu kamu.
    • Analisis: Menggunakan metafora pijakan bumi (grounding effect). Sebelum bertemu, penutur merasa melayang atau berada dalam ketidakpastian. Pertemuan memberikan rasa aman dan kesadaran spasial yang nyata.
  • "Jumatiqne wah menah mele bedait"
    • Glosarium: Mengharap besok pagi cepat datang untuk bertemu.
    • Analisis: Orientasi temporal yang menunjukkan antisipasi dan harapan (anticipatory hope) yang tinggi terhadap perjumpaan.

3. Konstruksi Nilai Sosial dan Resolusi Domestik

Dalam kebudayaan Sasak, puncak dari resolusi emosional dan penderitaan akibat cinta adalah pranata pernikahan (merariq):

  • "Timaqte kaken geres pokokte saq bareng"
    • Glosarium: Tidak apa-apa makan pasir/hidup susah asal bersamamu.
    • Analisis: Refleksi dari komitmen solidaritas ekonomi dan ketahanan hubungan (relationship resilience), di mana ikatan emosional meniadakan kecemasan akan materi.
  • "Merariq doang jari oatne"
    • Glosarium: Menikah adalah satu-satunya obatnya.
    • Analisis: Ungkapan ini merefleksikan norma budaya Sasak bahwa jalan keluar utama dari krisis emosional atau gejolak asmara muda-mudi adalah lembaga pernikahan (merariq). Pernikahan dipandang sebagai sarana penyembuh (healing mechanism) yang sah secara adat dan agama.

4. Ungkapan Kepasrahan dan Orientasi Eksistensial

  • "Lebur anyong siq kemosande" (Hatiku hancur lebur karena senyummu)
  • "Side doang taoq angenku" (Hanya engkau yang tahu isi hatiku)
  • "Idup mate side doang" (Hidup matiku hanya untukmu)

Ketiga ungkapan di atas menunjukkan bentuk penyerahan kontrol emosional secara total (total emotional surrender) kepada pasangan, di mana kebahagiaan dan eksistensi penutur sepenuhnya bergantung pada respon sang kekasih.

Kesimpulan

Tuturan romantis dalam bahasa Sasak kaya akan pemakaian ekspresi hiperbolik, metafora fisik-spasial, serta penekanan pada penyelesaian kultural melalui merariq. Bahasa ini menunjukkan bahwa dalam pandangan dunia masyarakat Sasak, cinta bukan sekadar perasaan abstrak, melainkan pengalaman yang meresap hingga ke kondisi fisik dan tatanan sosial.

Daftar Pustaka (Contoh Rujukan Pendukung)

  1. Mahsun. (2006). Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  2. Lakoff, G., & Johnson, M. (1980). Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press.

 

 

 

8 Komentar

Komentar Anda

  1. Balasan
    1. Arti bahasa lomboknya peren itu apa ya?

      Hapus
  2. Apakah kamu tidak merindukan aku apa bahasa lombok nya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ape ndekm kangenke? (apakah kamu tidak merindukan aku?)

      Hapus
  3. Bagaimana meluluhkn cowo lombok🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. https://yusufbimbi.blogspot.com/2024/05/cara-meluluhkan-hati-cowok-panduan.html

      Hapus
  4. Apa artinya cantik dari bahasa Lombok

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk kata cantik bahasa sasak lombok: Enges/Inges

      Hapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak