Sistem Nama Panggilan dalam Budaya Sasak
Nama panggilan orang Sasak sangat unik karena dibentuk dengan cara-cara tertentu yang menunjukkan status, kekerabatan, dan keakraban. Berikut ini beberapa sistem penamaan yang umum digunakan:
1. Nama Gadis dan Nama Bujang
Seorang wanita dipanggil dengan nama gadis (aran dedare), sedangkan pria dengan nama bujang (aran terune). Misalnya, seorang wanita bernama Jamilah akan tetap dipanggil Jamilah ketika masih gadis, dan seorang pria bernama Zaini dipanggil Zaini.
Misalnya:
Papuk Jamilah → sudah tua / punya cucu
2. Nama Berdasarkan Anak Pertama
Setelah menikah, panggilan seseorang biasanya berubah mengikuti nama anak pertama.
Pria: Peramak (Ayah + nama anak) → Amaq Ijang
Papuk Ijang → kakek
Baloq Ijang → buyut
3. Nama dengan Tambahan Kekerabatan
Nama tertentu dipanggil dengan tambahan hubungan keluarga, misalnya:
- Tuak Ijang → paman (adik ayah)
- Amak Kake Ijang → paman (kakak ayah)
- Papuk Ijang → kakek
4. Perubahan Akhiran Nama
Beberapa nama diubah akhiran atau suku katanya agar lebih khas:
- Jamilah → Ilok (akhiran -iah → -i’ok)
- Yani → Yanet (akhiran i → -net)
- Ahmad → Amot (akhiran mad → -mot)
- Iwan → Wenk (akhiran A → E)
5. Pengubahan Suku Kata
- Yusuf → Usu’ef / Ucup
- Siti Salmah → Selemah
- Andi → Gandek
- Adi → Gadet
6. Sapaan “Side”
Side digunakan untuk memanggil teman sebaya atau yang lebih tua secara sopan.
7. Pantangan Menyebut Nama Orang Tua
Orang Sasak tidak menyebut nama orang tua atau yang lebih tua secara langsung. Cukup panggil berdasarkan hubungan seperti Ayah, Ibu, Kakak, Paman, dan sejenisnya.
8. Nama Berdasarkan Keadaan Saat Lahir
- Seneng → lahir dalam suasana gembira
- Lemah → lahir saat sakit
- Ahmad Belabur → lahir saat hujan banjir
- Lembain → lahir saat musim bayam
- Bikan → lahir saat musim bikan
9. Perubahan Nama Modern
Banyak anak Sasak memakai nama modern seperti Danish, Danial atau Adit, namun panggilan lokal tetap hidup:

Tidak ada komentar:
Komentar Anda