Rahasia Air Kolam Toko Bening Terus
Kalau kita sering jalan-jalan ke toko akuarium atau toko alat kolam, mata rasanya dimanjakan banget. Air di kolam atau akuarium pajangan mereka selalu kelihatan bening kristal, ikannya berenang anggun, dan kelihatannya kok merawatnya gampang banget.
Tapi tunggu dulu sampai kita mempraktikkannya sendiri di rumah... Beda cerita, sob!
Awalnya saya sempat heran, kenapa air kolam di toko bisa se-kristal itu sementara kolam di rumah gampang keruh? Jawabannya ternyata simpel: skala dan kepadatan. Di toko, ikan yang dipajang cuma belasan ekor sebagai sampel, tapi filter yang dipakai ukurannya sepadan tong air besar. Sementara kita di rumah? Maunya maksimalkan lahan!
Nah, ini kelanjutan cerita suka duka saya mengurus kolam nila rumahan yang makin hari makin "meriah".
Nekad Beli 1.000 Bibit Seukuran Lidi
Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk "gaspol". Saya beli bibit anak ikan nila yang ukurannya masih seukuran batang lidi. Harganya murah meriah, cuma Rp100 per ekor. Jadi modal Rp100.000 sudah dapat 1.000 ekor bibit.
Di fase awal saat bibit baru dilepas, rasanya masih adem ayem. Air kolam awet jernih, filter kerja santai, dan kotoran ikan hampir tidak kelihatan karena ukuran mereka yang masih sangat kecil. Tapi ingat, nila itu pertumbuhannya cepat banget!
Waktu Berjalan, Masalah Kotoran Mulai "Meledak"
Memasuki bulan ke-5 dan ke-6, buah dari pakan rutin dua kali sehari (pagi dan sore) mulai kelihatan. Ikan-ikan yang bertahan hidup, kasarnya sekitar 50% atau 500 ekor dari tebaran awal, sudah tumbuh bongsor. Yang paling besar bahkan ukurannya sudah sebesar telapak tangan dewasa!
Melihat ikan sehat dan besar tentu bikin hati senang. Tapi di sisi lain... kotorannya ampun-ampunan!
Saat ukuran ikan makin besar, volume kotoran yang dihasilkan melonjak drastis. Kalau waktu masih bibit air kolam aman dipantau seminggu sekali, sekarang dengan ukuran ikan sebesar telapak tangan, tingkat kekeruhan air benar-benar beda kelas.
Perjuangan Skema Filter 5 Chamber + Ember Ekstra
Gara-gara ampas kotoran yang melimpah ini, mau tak mau volume dan frekuensi pembersihan kolam harus ditingkatkan. Saat ini, saya harus menguras dan membersihkan sistem filter hampir 2 kali seminggu.
Untuk menahan gempuran kotoran nila-nila bongsor ini, saya menyusun skema filtrasi seperti ini:
Chamber 1: Dipasang jaring nelayan sebagai penyaring fisik pertama untuk menangkap kotoran kasar.
Chamber 2 sampai 4: Diisi kombinasi bio ball dan tanaman eceng gondok untuk menyerap racun amoniak sekaligus tempat bakteri baik tumbuh.
Chamber 5: Masih memanfaatkan bio ball dan eceng gondok sebagai penyaringan akhir di area bak utama.
Ember Ekstra 75 Liter: Dari chamber ke-5, air disedot pompa ke ember tambahan berukuran 75 liter yang kembali saya jejali jaring nelayan dan busa sintetis sebelum airnya kembali jatuh ke kolam.
Pembelajaran Penting: Pelihara Air dulu, Baru Pelihara Ikan
Dari perjalanan ini saya makin paham, memelihara ikan nila di kolam rumahan itu pada hakikatnya adalah memelihara air. Makin besar ikannya, makin besar pula "pabrik kotoran" yang beroperasi di dalam kolam.
Jangan samakan kolam produksi rumahan kita dengan kolam display toko akuarium. Kalau di toko filternya over-spec untuk ikan yang sedikit, di tempat kita filternya harus bekerja ekstra keras menampung ratusan populasi yang makin hari makin rakus.
Capek? Lumayan. Harus cuci busa dan jaring nelayan dua kali seminggu memang menguras tenaga. Tapi begitu melihat nila-nila sehat sebesar telapak tangan berkumpul saat diberi makan sore... rasa lelah itu terbayar tuntas!
Buat teman-teman yang kolamnya lagi keruh-keruhnya karena ikannya pada membesar, tenang... kalian gak sendirian! Ada yang punya trik filter rumahan yang lebih praktis? Coba bisikin di kolom komentar ya!

0 Komentar
Komentar Anda