![]() |
| Ilustrasi Tuselak Ekek |
Tuselak Ekek: Sang Pemangsa Bau dari Tanah Sasak
Dalam khazanah mitologi masyarakat Sasak di Pulau Lombok, istilah Tuselak bukanlah hal yang asing. Namun, di antara tingkatan ilmu hitam yang dipercaya masyarakat, terdapat satu sosok yang dianggap memiliki tingkatan paling rendah: Tuselak Ekek.
Berbeda dengan tingkatan Tuselak lain yang mungkin lebih "maju" atau memiliki kemampuan lebih tinggi, Tuselak Ekek menyimpan keunikannya sendiri, baik dari cara beraktivitas hingga kebiasaan uniknya yang menyeramkan namun terkesan "nyeleneh".
Fenomena Hujan Pertama: Panggilan Sang "Maye-maye"
Ada kepercayaan unik yang mengaitkan kemunculan Tuselak Ekek dengan pergantian musim. Konon, saat hujan pertama turun di awal musim penghujan, tanah yang kering akan mengeluarkan aroma khas yang harum dan menyengat.
Bagi masyarakat lokal, bau tanah (petrichor) ini bukanlah sekadar aroma alam biasa, melainkan "panggilan" bagi para Tuselak. Aroma ini begitu memikat hingga membangkitkan maye-maye (nafsu atau insting) mereka. Dalam kondisi tak sadar, mereka akan keluar dari rumah, terseret oleh aroma yang di telinga mereka terdengar seperti aroma makanan lezat.
"Wah, bau nangka! Hmm, tercium wangi pisang goreng, atau mungkin bubur kacang hijau?" gumam mereka dalam bayangan. Terbawa oleh halusinasi aroma lezat, mereka menyusuri sawah, kebun, hingga area pemakaman demi mencari "santapan" yang ternyata hanyalah bangkai atau kotoran manusia dan hewan.
Cara Terbang yang Unik: Seperti Undur-Undur
Salah satu ciri paling khas dari Tuselak Ekek adalah caranya berpindah tempat. Sosok ini dipercaya terbang dengan posisi duduk membelakangi arah tujuan, mirip dengan pergerakan serangga undur-undur.
Jelajah Tuselak Ekek tergolong sangat terbatas, hanya mencakup area di dalam satu pulau saja. Ketinggian terbangnya pun sangat rendah, sehingga dalam legenda lama, sering dikatakan bahwa sosok ini bisa terlihat dengan mata telanjang jika seseorang cukup beruntung (atau sial) saat berpapasan dengannya di malam hari.
Sang Penakut yang Ceria
Setelah perut kenyang oleh "santapan" mereka, Tuselak Ekek memiliki hobi yang cukup membuat bulu kuduk berdiri: menakut-nakuti warga. Mereka biasanya menunggu di jalur yang sering dilalui orang.
Cara mereka meneror pun beragam:
Penampakan Ganjil: Muncul sebagai sosok hantu yang duduk di atas pohon dengan kaki menjuntai hingga menyentuh tanah.
Gangguan Fisik: Menggoyang-goyangkan dahan pohon hingga berderit.
Transformasi: Menyerupai hewan seperti anjing, monyet, atau bebek.
Tujuan utama mereka bukanlah menyakiti, melainkan kepuasan batin. Ketika melihat targetnya lari ketakutan, Tuselak Ekek akan tertawa cekikikan—sebuah tawa yang konon sangat seram dan membahana. Mereka akan semakin bersemangat jika melihat "telapak kaki" korban yang tampak berkelebat putih seperti sayap kupu-kupu saat berlari kencang.
Mitologi di Era Digital
Tentu saja, cerita tentang Tuselak Ekek kini lebih sering terdengar sebagai hiburan atau pengingat akan kekayaan budaya lisan Sasak. Namun, jika Anda penasaran dan ingin membuktikan mitos ini dengan teknologi modern, Anda mungkin perlu menyiapkan ponsel dengan spesifikasi mumpuni.
Di era sekarang, jika Anda merasa berada di dekat sosok ini saat hujan pertama, menyiapkan ponsel dengan fitur kamera infra merah (night vision) mungkin menjadi langkah paling logis. Siapa tahu, Anda bisa menangkap momen "penerbangan" unik si Tuselak Ekek dengan lensa resolusi tinggi.
Catatan Penutup:
Cerita ini adalah bagian dari kekayaan tradisi lisan (folklore) masyarakat Sasak. Mempelajari mitos seperti ini memberikan kita wawasan tentang bagaimana masyarakat masa lalu memaknai fenomena alam dan lingkungan di sekitar mereka.
