![]() |
| Photo Ilustrasi |
Ritual Bejarik: Menyelami Kedalaman Spiritual dan Etika Berguru dalam Tradisi Sasak
Dalam tradisi keilmuan Suku Sasak, menguasai suatu ilmu tidak bisa dilakukan secara instan. Terdapat tahapan krusial yang harus dilalui oleh seorang calon praktisi, yaitu Ritual Bejarik. Secara filosofis, Bejarik merupakan simbol penyucian diri agar ilmu yang dipelajari dapat masuk, menyatu, dan melekat dengan sempurna ke dalam tubuh praktisinya.
Esensi Ritual Bejarik
Proses Bejarik diibaratkan seperti mempersiapkan kertas putih yang bersih agar mudah dituliskan tinta. Ritual ini melibatkan berbagai disiplin spiritual yang bertujuan menyelaraskan tubuh, pikiran, dan hati:
Mandi Berendam: Sebagai simbol pembersihan fisik dan energi.
Berpuasa: Untuk mengendalikan nafsu dan menyucikan perbuatan.
Berdiam Diri (Tidak Bicara): Menjaga lisan agar tetap bersih.
Fokus dan Wirid/Zikir: Menyatukan pikiran dan hati agar selaras dalam satu tujuan.
Variasi Ritual dan Petunjuk Mimpi
Jenis Bejarik sangat bergantung pada ilmu yang dipelajari. Secara umum, ritual sering dilakukan dengan mandi tengah malam di pemandian pribadi yang digali sendiri dan harus dirahasiakan. Durasi ritual ini biasanya ditentukan oleh petunjuk melalui mimpi.
Dalam tradisi Sasak, mimpi menjadi indikator keberhasilan ritual:
Ilmu Nine (Asmara/Pengasihan): Sering ditandai dengan mimpi menangkap burung kecial kuning (semakin kecil semakin bagus) atau menunggang kuda putih untuk tataran tertinggi.
Ilmu Mame (Keperkasaan): Biasanya ditandai dengan mimpi masuk ke dalam gua atau ke dalam batu.
Setelah tanda mimpi tersebut muncul, ritual dihentikan dan ilmu tersebut siap untuk diuji oleh sang guru, baik di tempat-tempat sepi maupun melalui ujian nyata.
Pantangan dan Kewaspadaan
Selama masa Bejarik, murid diwajibkan mematuhi berbagai pantangan ketat, seperti larangan mengonsumsi makhluk berdarah, garam, labu (buak perenggi), kelor, pisang emas, hingga aturan perilaku seperti tidak boleh dilewati dari belakang atau melewati bawah jemuran.
Namun, penting bagi calon murid untuk bersikap waspada. Tidak semua ritual beraliran putih. Jika ritual melibatkan penggunaan periuk tanah, benang hitam atau merah, serta prosedur yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, hal itu patut dicurigai sebagai praktik ilmu hitam.
Pesan Bagi Para Penuntut Ilmu
Fenomena oknum guru yang tidak bertanggung jawab menjadi peringatan nyata bagi siapa saja yang ingin berguru. Banyak orang terjebak mempelajari ilmu hitam tanpa disadari karena kurangnya pemahaman terhadap jenis ilmu yang diturunkan.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berguru, lakukanlah riset dengan bertanya kepada orang-orang di sekitar mengenai latar belakang calon guru tersebut. Jangan sampai niat baik untuk menuntut ilmu justru membawa dampak buruk; sebagaimana pepatah yang disampaikan, "Jangan sampai dikasih roti, tak tahunya tahi kuda".
